Senin, 27 Mar 06
Izinkan Aku Jadi Punker

"Ya
ampun! Kok bisa ya mereka dandan seperti itu?" seru ibuku dari dalam
mobil ketika kami sedang melewati jalan sekitar Simpang Lima, Semarang.
Memang, di pinggir jalan tersebut banyak anak muda berkumpul dengan
dandanan yang biasa disebut punk.
Rambut mereka sebagian dibikin
mohawk, sepatu boot dan celana ketat tujuh perdelapan. Belum lagi baju
mereka yang dipenuhi oleh emblem tulisan grup band punk atau sekadar
propaganda sosial. Juga rantai-rantai yang menjadi penghias saku
mereka. Beberapa di antara mereka, ada yang dengan sengaja melubangi
telinganya sebesar koin seratusan atau biasa disebut dengan tindik plug.
Dandanan
mereka memang sungguh luar biasa. Terutama di mata orang tua seperti
ibuku. Tak henti-hentinya ibuku mengomentari mereka. "Kok boleh ya
anaknya seperti itu? Mau jadi apa coba!" lanjut ibuku lagi. Hingga kami
tidak melihat gerombolan mereka, ibuku masih saja berkomentar sampai
akhirnya aku dibawa-bawa.
"Coba kamu berdandan seperti itu,
mending kamu nggak usah pulang ke rumah!" kata ibuku. Lagi-lagi aku
hanya tersenyum mendengarnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa iya
seorang ibu tega mengusir anak sendiri hanya karena dandanannya?
Sebegitu pentingkah penampilan anak bagi orang tuanya?
*****
Di
telingaku masih terngiang ucapan-ucapan ibu waktu itu. Tepatnya dua
bulan yang lalu ketika kami mengunjungi kakak iparku di Semarang yang
sedang melahirkan. Terus terang, aku sangat menghargai keputusan ibu
untuk melarangku pulang ke rumah sebulan yang lalu. Karena, aku yang
sekarang adalah bagian dari mereka, anak punk yang pernah
dijelek-jelekkan oleh ibuku.
Di tubuhku bersemayam anting-anting
pada bagian yang tidak semestinya. Ya, aku menindik lidahku, alisku,
pusarku, dan tentu saja telingaku. Semuanya di atas kewajaran tindik
bagi seorang perempuan. Namun, bagiku semuanya itu biasa, sangat wajar.
Dandananku pun hampir mendekati dandanan mereka. Rambutku yang panjang,
kubiarkan saja tanpa kusisir meski setelah keramas. Kubiarkan rambutku
membentuk koloni-koloni yang biasa disebut dengan gimbal. Dan anehnya,
aku merasa nyaman dengan semua itu.
Aku tahu kalau ibuku pasti
tidak setuju dengan keputusanku. Aku mulai sering keluar malam dengan
teman-teman dan menghabiskan waktu untuk sekedar nongkrong di halte.
Kami bercengkerama dan bercerita akan keputusan untuk bergaya hidup
seperti ini.
Aku merasa nyaman bersama-sama mereka. Meskipun aku
sadar pergaulan dengan mereka sangatlah menentang bahaya. Tidak jarang
salah satu dari mereka menyodorkan entah apa itu namanya, sejenis
obat-obatan terlarang, kepadaku. Namun, aku berhasil menolaknya. Karena
aku belum terlampau berani mengambil keputusan itu. Aku masih terlampau
sayang dengan tubuhku.
Selain itu, tak jarang juga aku
menyaksikan mereka yang berpesta minuman keras. Salah satu menawari dan
kemudian patungan untuk membeli lagi karena masih kurang. Ada saja yang
mereka lakukan. Meski begitu aku tetap bergeming, aku tetap menikmati
keputusanku. Kuberikan kebebasan bagi mereka melakukan hal itu dan
mereka pun memberikan kebebasan terhadap keputusanku. Kubiarkan mereka
"berbahagia" di sampingku dan aku hanya sanggup meringsek sedikit dari
mereka karena aku tak tahan dengan baunya.
Tapi, bukan aku saja
yang mengambil keputusan untuk tidak menyentuh sesuatu yang merusak
tubuh. Ada beberapa dari mereka juga sama denganku. Dan biasanya, kita
berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari politik maupun propaganda.
Dalam hal ini, aku sangat salut kepada mereka. Ternyata, otak mereka
tak bisa dipandang sebelah mata. Kritik sosial yang mereka lakukan
sangat-sangat kritis. Aku bangga berteman dengan mereka.
Orang
lain pasti tidak menyangka bahwa seorang punker bisa berpikir sedalam
itu. Aku yakin, orang lain bisa jadi seperti ibuku hanya melihat kami
dari penampilan saja. Kotor, urakan, tak bermasa depan, bikin malu
keluarga dan keblablasan.
Padahal, setahuku seringkali kita
dapati slogan-slogan yang melarang kita untuk menilai segala sesuatu
hanya dengan dilihat dari luarnya saja. Don’t judge a book by its
cover. Iya kan?
Sudah satu bulan aku tidak bertemu ibu. Ada rasa
kangen dalam hati. Aku ingin bertemu ibu. Setelah keputusanku,
komunikasi dengan ibu mulai jarang. Kalau aku telepon kerumah, ada saja
alasan ibu untuk menolak berbicara denganku.
Terus terang, aku
sedih juga. Kenapa orang selalu melihat penampilan luar? Padahal aku
sudah jelaskan kalau aku tidak akan membikin malu keluarga dengan
pergaulan bebas, nge-drug atau bahkan aborsi. Aku bukan seperti itu,
Bu. Aku seperti ini karena aku merasa nyaman, tak ada perbedaan status
sosial dan aku bisa melebur menjadi satu dengan mereka dan merasakan
kehangatan persahabatan.
Bolehkah aku bilang kalau aku sudah
capek dengan doktrinmu, Bu? Aku tahu itu pasti menyakitkan dan aku tak
akan melakukannya. Biarlah kubiarkan ibu berpikir sendiri akan
keputusanku. Selama ini, aku selalu berusaha tnenjadi apa yang
diinginkan ibu. Apakah sekarang aku tidak boleh memilih apa yang
menjadi keinginanku?
Waktu itu pertama kalinya aku pulang dengan
rambut yang tidak terurus. Kubiarkan saja tidak kusisir setelah
dikeramas. Ibuku langsung memberondongku dengan sejuta pertanyaan.
"Ikat rambutmu kenapa? Sisirmu patah?" tanya ibuku saat melihatku di
pintu depan. Aku hanya tersenyum.
Setelah mandi dan keramas,
betapa kagetnya waktu aku melihat ibuku sudah siap duduk di kursi
dengan memegang sisir. "Ayo sini biar ibu yang sisirin. Kamu duduk di
bawah sini, biar ibu gampang sisirinnya!", perintah ibuku. Aku tak tahu
mesti berbuat apa. Apa bisa aku menolak perintah ibu? Dengan langkah
pasrah aku pun mendekati ibuku. Kubiarkan ibu menyisir ramputku
pelan-pelan sambil berkomentar tentang rambutku.
Kubiarkan ibu
mengeluarkan seluruh petuahnya tentang hakikat perempuan. Bagaimana
sebaiknya perempuan itu bersikap, berdandan, dan juga bertutur kata.
Aku hanya bisa diam dan tentu saja dalam hatiku ingin berteriak
menyuruh ibu agar diam.
Aku sudah kenyang dengan komentarnya.
Tapi lagi-lagi aku tak melakukan itu, aku masih bisa menahan diriku
untuk tidak berbuat lancang di depan ibuku. Toh, bagaimanapun juga
beliau tetap ibuku.
Terlalu pelik memang hubungan anak dengan ibu yang selalu berbeda pendapat. Tanpa ada penyelesaian dan jalan keluar.
Aku
ingin menyenangkan hatiku, Bu. Haruskah aku selalu menjadi boneka
buatan ibu dan tentu saja aku merasa dipenjara karenanya? Maafkan aku,
Bu, karena aku menjadi seorang punker. Ijinkan aku, Bu!
Dewi Ujipriyanti
Penulis adalah mahasiswi Unitomo
Dari cerpen diatas harus bisa diambil hikmahnya.!!! ok