Archive for March, 2006

Refresh

Friday, March 31st, 2006

Rabu, 22 Mar 2006,
Renault Megane F1 Team Limited Edition


            Simbol Kemenangan Renault di Balap F1 2005
Sebuah
sukses memang patut dirayakan. Usai menyabet gelar juara dunia
konstruktor Formula 1 musim 2005, Renault merayakan dengan peluncuran
Megane RS F1 Team Limited Edition, sedan kecil hatchback yang
dilengkapi aksesori balap.

Namanya saja limited edition, jadi
jangan heran kalau hanya dibuat 500 unit. Karena sedikit, pabrikan
besar asal Perancis itu menyajikannya dengan istimewa. Megane (baca:
Megan, Red) dilengkapi fitur khusus ala mobil balap.

Lihat
tampilan luarnya. Sangat manis dengan cat warna Scotek Monako Blue
dipadu strip kuning dan biru muda di hidung, corak khas tim Renault F1.
Menurut Renault, bagian depan Megane sangat sporty. Ini berkat desain
grille, headlamp, dan bemper yang terkesan membentuk huruf "V". Ada
pula plakat di depan tuas persneling yang menunjukkan nomer seri
hatchback ini.

Bagaimana dengan performa mesin? Renault
memakai mesin 2.000 Turbo 16 valve yang menghasilkan 225 tk pada 5.000
rpm. Berkat mesin ini, akslerasi 0-100 km/jam bisa ditempuh dalam 6,5
detik. Top speed-nya sendiri mencapai 236 km/jam.

Keunggulan
lain mesin ini yaitu sudah ramah lingkungan dengan standar Euro IV
dengan 1 primary catalytic converter. Sistem pasokan bahan bakarnya
model injeksi. Konsumsi bahan bakar diklaim cukup irit hanya 8,8
liter/100 km di rute kombinasi.

Performa mesin yang hebat harus
didukung piranti keamanan handal. Salah satunya adalah sistem rem
Anti-lock Braking System (ABS) dan Electronic Brakeforce Distribution
(EBD) merek Bosch. Ada pula delapan perangkat airbag yang siap menjamin
keselamatan penumpang.

Saat ini, Megane RS F1 Team Limited
Edition hanya dijual di Eropa dengan bandrol 20 ribu poundsterling atau
sekitar Rp 321 juta (belum bea masuk, Red). Belum ada kepastian, apakah
mobil itu akan dibawa ke Indonesia. "Kemungkinan Juli mendatang akan
kami pamerkan di Gaikindo Auto Expo. Kalau dijual, harganya mungkin
sebanding Volkswagen Golf GTi, sekitar Rp 435 juta," terang Ario
Soerjo, kepala divisi sales dan marketing Renault Indonesia. (ode)

cerpen remaja

Friday, March 31st, 2006

Senin, 27 Mar 06
Izinkan Aku Jadi Punker


            "Ya
ampun! Kok bisa ya mereka dandan seperti itu?" seru ibuku dari dalam
mobil ketika kami sedang melewati jalan sekitar Simpang Lima, Semarang.
Memang, di pinggir jalan tersebut banyak anak muda berkumpul dengan
dandanan yang biasa disebut punk.

Rambut mereka sebagian dibikin
mohawk, sepatu boot dan celana ketat tujuh perdelapan. Belum lagi baju
mereka yang dipenuhi oleh emblem tulisan grup band punk atau sekadar
propaganda sosial. Juga rantai-rantai yang menjadi penghias saku
mereka. Beberapa di antara mereka, ada yang dengan sengaja melubangi
telinganya sebesar koin seratusan atau biasa disebut dengan tindik plug.

Dandanan
mereka memang sungguh luar biasa. Terutama di mata orang tua seperti
ibuku. Tak henti-hentinya ibuku mengomentari mereka. "Kok boleh ya
anaknya seperti itu? Mau jadi apa coba!" lanjut ibuku lagi. Hingga kami
tidak melihat gerombolan mereka, ibuku masih saja berkomentar sampai
akhirnya aku dibawa-bawa.

"Coba kamu berdandan seperti itu,
mending kamu nggak usah pulang ke rumah!" kata ibuku. Lagi-lagi aku
hanya tersenyum mendengarnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa iya
seorang ibu tega mengusir anak sendiri hanya karena dandanannya?
Sebegitu pentingkah penampilan anak bagi orang tuanya?

*****

Di
telingaku masih terngiang ucapan-ucapan ibu waktu itu. Tepatnya dua
bulan yang lalu ketika kami mengunjungi kakak iparku di Semarang yang
sedang melahirkan. Terus terang, aku sangat menghargai keputusan ibu
untuk melarangku pulang ke rumah sebulan yang lalu. Karena, aku yang
sekarang adalah bagian dari mereka, anak punk yang pernah
dijelek-jelekkan oleh ibuku.

Di tubuhku bersemayam anting-anting
pada bagian yang tidak semestinya. Ya, aku menindik lidahku, alisku,
pusarku, dan tentu saja telingaku. Semuanya di atas kewajaran tindik
bagi seorang perempuan. Namun, bagiku semuanya itu biasa, sangat wajar.
Dandananku pun hampir mendekati dandanan mereka. Rambutku yang panjang,
kubiarkan saja tanpa kusisir meski setelah keramas. Kubiarkan rambutku
membentuk koloni-koloni yang biasa disebut dengan gimbal. Dan anehnya,
aku merasa nyaman dengan semua itu.

Aku tahu kalau ibuku pasti
tidak setuju dengan keputusanku. Aku mulai sering keluar malam dengan
teman-teman dan menghabiskan waktu untuk sekedar nongkrong di halte.
Kami bercengkerama dan bercerita akan keputusan untuk bergaya hidup
seperti ini.

Aku merasa nyaman bersama-sama mereka. Meskipun aku
sadar pergaulan dengan mereka sangatlah menentang bahaya. Tidak jarang
salah satu dari mereka menyodorkan entah apa itu namanya, sejenis
obat-obatan terlarang, kepadaku. Namun, aku berhasil menolaknya. Karena
aku belum terlampau berani mengambil keputusan itu. Aku masih terlampau
sayang dengan tubuhku.

Selain itu, tak jarang juga aku
menyaksikan mereka yang berpesta minuman keras. Salah satu menawari dan
kemudian patungan untuk membeli lagi karena masih kurang. Ada saja yang
mereka lakukan. Meski begitu aku tetap bergeming, aku tetap menikmati
keputusanku. Kuberikan kebebasan bagi mereka melakukan hal itu dan
mereka pun memberikan kebebasan terhadap keputusanku. Kubiarkan mereka
"berbahagia" di sampingku dan aku hanya sanggup meringsek sedikit dari
mereka karena aku tak tahan dengan baunya.

Tapi, bukan aku saja
yang mengambil keputusan untuk tidak menyentuh sesuatu yang merusak
tubuh. Ada beberapa dari mereka juga sama denganku. Dan biasanya, kita
berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari politik maupun propaganda.
Dalam hal ini, aku sangat salut kepada mereka. Ternyata, otak mereka
tak bisa dipandang sebelah mata. Kritik sosial yang mereka lakukan
sangat-sangat kritis. Aku bangga berteman dengan mereka.

Orang
lain pasti tidak menyangka bahwa seorang punker bisa berpikir sedalam
itu. Aku yakin, orang lain bisa jadi seperti ibuku hanya melihat kami
dari penampilan saja. Kotor, urakan, tak bermasa depan, bikin malu
keluarga dan keblablasan.

Padahal, setahuku seringkali kita
dapati slogan-slogan yang melarang kita untuk menilai segala sesuatu
hanya dengan dilihat dari luarnya saja. Don’t judge a book by its
cover. Iya kan?

Sudah satu bulan aku tidak bertemu ibu. Ada rasa
kangen dalam hati. Aku ingin bertemu ibu. Setelah keputusanku,
komunikasi dengan ibu mulai jarang. Kalau aku telepon kerumah, ada saja
alasan ibu untuk menolak berbicara denganku.

Terus terang, aku
sedih juga. Kenapa orang selalu melihat penampilan luar? Padahal aku
sudah jelaskan kalau aku tidak akan membikin malu keluarga dengan
pergaulan bebas, nge-drug atau bahkan aborsi. Aku bukan seperti itu,
Bu. Aku seperti ini karena aku merasa nyaman, tak ada perbedaan status
sosial dan aku bisa melebur menjadi satu dengan mereka dan merasakan
kehangatan persahabatan.

Bolehkah aku bilang kalau aku sudah
capek dengan doktrinmu, Bu? Aku tahu itu pasti menyakitkan dan aku tak
akan melakukannya. Biarlah kubiarkan ibu berpikir sendiri akan
keputusanku. Selama ini, aku selalu berusaha tnenjadi apa yang
diinginkan ibu. Apakah sekarang aku tidak boleh memilih apa yang
menjadi keinginanku?

Waktu itu pertama kalinya aku pulang dengan
rambut yang tidak terurus. Kubiarkan saja tidak kusisir setelah
dikeramas. Ibuku langsung memberondongku dengan sejuta pertanyaan.
"Ikat rambutmu kenapa? Sisirmu patah?" tanya ibuku saat melihatku di
pintu depan. Aku hanya tersenyum.

Setelah mandi dan keramas,
betapa kagetnya waktu aku melihat ibuku sudah siap duduk di kursi
dengan memegang sisir. "Ayo sini biar ibu yang sisirin. Kamu duduk di
bawah sini, biar ibu gampang sisirinnya!", perintah ibuku. Aku tak tahu
mesti berbuat apa. Apa bisa aku menolak perintah ibu? Dengan langkah
pasrah aku pun mendekati ibuku. Kubiarkan ibu menyisir ramputku
pelan-pelan sambil berkomentar tentang rambutku.

Kubiarkan ibu
mengeluarkan seluruh petuahnya tentang hakikat perempuan. Bagaimana
sebaiknya perempuan itu bersikap, berdandan, dan juga bertutur kata.
Aku hanya bisa diam dan tentu saja dalam hatiku ingin berteriak
menyuruh ibu agar diam.

Aku sudah kenyang dengan komentarnya.
Tapi lagi-lagi aku tak melakukan itu, aku masih bisa menahan diriku
untuk tidak berbuat lancang di depan ibuku. Toh, bagaimanapun juga
beliau tetap ibuku.

Terlalu pelik memang hubungan anak dengan ibu yang selalu berbeda pendapat. Tanpa ada penyelesaian dan jalan keluar.

Aku
ingin menyenangkan hatiku, Bu. Haruskah aku selalu menjadi boneka
buatan ibu dan tentu saja aku merasa dipenjara karenanya? Maafkan aku,
Bu, karena aku menjadi seorang punker. Ijinkan aku, Bu!

Dewi Ujipriyanti
Penulis adalah mahasiswi Unitomo

Dari cerpen diatas harus bisa diambil hikmahnya.!!! ok

Friday, March 31st, 2006

Gandok
Gandok

Selamat Datang

Thursday, March 23rd, 2006

     Assalamu alaikum Wr Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT dimana atas rahmat,taufik dan hidayahnyalah saya selaku pemilik blog ini dapat menyelesaikan blog
ini dengan berbagai kekurangannya.
Semoga dengan adanya blog ini saya dapat bertukar informasi atau melakukan hal -hal yang berguna lainnya untuk menambah wawasan dan sudut pandang kita dalam berbagai hal
    Dengan maraknya friendster dan blog yang semakin meluas pada pengguna internet merupakan suatu kemajuan yang sangat bermanfaat. Walaupun begitu, dengan mudahnya mengekspos foto-foto di friendster atau blog menyebabkan orang dengan mudah mengupload foto-foto yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal itu harusnya kita lebih selektif dan"PUNYA MALU" untuk mengekspos foto-foto yang tidak sesuai dengan agama dan budaya timur yang menjunjung tinggi kesopanan.Kiranya sebagai manusia beradap kita sudah bisa berfikir secara benar dengan akal sehat kita.
    Semoga tulisan ini bermanfaat untuk dibaca dan semoga dapat mengingatkan tentang"apa arti hidup" baik untuk saya sendiri maupun untuk pembaca. Kiranya itu saja yang dapat saya sampaikan, terima kasih.
    Wassalam